Selain fantasi, thriller, dan science fiction, genre film yang mampu membuat saya melek sepanjang menontonnya adalah drama keluarga. Sebut saja Sabtu Bersama Bapak, Keluarga Cemara, dan Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini. Alih-alih ketiduran di tengah-tengah film seperti kalau menonton genre romance, saya siaga sepanjang film dengan segepok tisu di pangkuan. Kalau menonton Gundala saja bisa bikin saya mewek, apalagi film-film yang menguras emosi itu.

Jumat malam adalah jadwal saya menonton film. Ini adalah film ketiga yang saya tonton di tahun 2021. Film lepas, bukan yang berseri, karena saya tak pernah suka menunggu. Itulah mengapa saya tak pernah berminat menonton drakor sampai saat ini: karena menunggu episod demi episodnya tayang itu tak menyenangkan. Sebuah alasan lain, selain karena saya memang kurang menyukai kisah percintaan yang mendayu-dayu.

Yang Tak Tergantikan adalah sebuah film drama Indonesia yang disutradarai oleh Herwin Novianto dan diproduksi oleh Falcon Pictures. Dibintangi oleh Lulu Tobing, Dewa Dayana, Yasamin Jasem, dan Maisha Kanna, film ini rilis perdana pada 15 Januari 2021 di Disney+ Hotstar.

Film Yang Tak Tergantikan berkisah tentang ibu tunggal bernama Aryati (Lulu Tobing) yang tinggal bersama ketiga anaknya, Bayu (Dewa Dayana), Tika (Yasamin Jasem), dan Kinanti (Maisha Kanna). Tak ingin anak-anaknya merasakan penderitaannya, Aryati memilih menutup rapat alasannya bercerai dengan ayah mereka. Ia juga selalu menyembunyikan tabiat buruk mantan suaminya itu di hadapan mereka. Aryati membanting tulang menghidupi keluarga dengan menjadi driver taksi online. Bayu, si sulung yang telah bekerja pun berusaha untuk membantu ibunya. Namun sayang, kemudian ia mengalami masalah di tempat kerjanya dan terkena PHK.

Konflik pun mulai berkembang di sini. Berbagai problematika muncul: pubertas remaja, pertikaian  antar saudara, tagihan uang kontrakan, listrik yang tidak terbayar, hingga persoalan besar saat Aryati kehilangan perhiasan dan menemukan alat pengisap sabu di tumpukan baju Bayu. Persoalan yang datang bertubi-tubi itu kemudian membuat emosi Aryati memuncak dan meledak, dan ia tumpahkan kepada ketiga anaknya.

Film ini sangat realistis, sangat dekat dengan kehidupan nyata. Seorang ibu adalah seorang ibu. Bagaimanapun, kasih sayangnya kepada anak-anak mengalahkan segala kemarahan dan penderitaan yang ia rasakan. Aryati adalah gambaran seorang ibu yang berusaha untuk mengajak anak-anaknya menari dalam hujan. Di tengah struggle-nya keluarga mereka, kebahagiaan-kebahagiaan kecil senantiasa dirayakan, dan itulah yang menguatkan ia dan anak-anaknya.

Secara umum, film ini cukup berhasil. Salah satu yang cukup menyita perhatian saya adalah meja makan sebagai simbol kebersamaan keluarga. Ada lima kursi di sana, dan satu kursi dibiarkan kosong tak terisi. Namun, pada saat konflik memuncak, Aryati berpindah ke kursi itu dan mengisi kekosongan itu dengan keberadaannya. Sebuah penggambaran tentang sosok ibu yang mengisi kekosongan peran ayah sebagai kepala keluarga. Hanya ada gangguan-gangguan kecil seperti dialog yang terasa kaku dan tidak natural dan kurang gregetnya emosi Aryati saat mengetahui bahwa Bayu terperosok narkoba. Selebihnya, film ini sangat layak dinikmati bersama keluarga.

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.