Eh, kenapa judul tulisannya begitu? Apanya yang syahdu?

Bukan apa-apa, sih, biar cocok aja rimanya. *nyengir

Lama juga nggak nulis di blog. Beberapa waktu ini saya disibukkan dengan berbagai macam hal yang membuat saya nggak sempet bikin review film (sebenarnya ada dua film yang siap review, tapi belum sempat-sempat. Maklumlah, kerjaan serabutan), baca buku pun nggak selesai-selesai, pun belum ada sesuatu yang siap saya tulis. Tapi, hari ini saya merasa kudu nulis di blog, karena ada sesuatu yang perlu segera dituliskan.

Jadi, minggu lalu, saya dikontak penerbit yang mengabarkan bahwa buku saya sudah selesai cetak. Tak terkira bahagianya, karena setelah selang enam tahun dari novel terakhir, Adonis, akhirnya saya punya buku lagi! Alhamdulillah, resolusi ganti background foto di medsos yang sejatinya sejak dua tahun lalu, tahun ini bisa diwujudkan, haha.

Sejujurnya, saya sudah hampir menyerah dengan naskah ini. Bahkan sudah hampir saya lupakan. Perjalanannya menuju lahir sangatlah panjang. Saya menulisnya beberapa saat setelah Adonis (Bentang Pustaka) yang lahir pada 2015. Eh, atau malah sebelumnya, saya lupa. Lalu, naskah itu saya tawarkan ke penerbit dan diiyakan. Namun karena satu dan lain hal, penerbitannya tertunda. Saya bahkan hampir lupa punya naskah itu. Lalu, saya sudah menulis satu-dua buku lain, dan makin lupa. Lalu, suatu saat, ketika sedang gabut, mendadak saya ingat lagi. Saya tanyakan kembali, dan singkat cerita, buku ini diagendakan penerbitannya di 2021 ini. Namun, karena sudah cukup lama, saya minta izin untuk membongkar isinya karena ada beberapa hal yang sudah tidak relevan lagi.

Maka, tadaaa… setelah perjalanan panjang yang begitu syahdu, lahirlah novel bergenre romance ini dengan judulnya yang baru, Violinis dan Kedai Rindu. Sepertinya bukan karya terbaik yang saya hasilkan, tetapi novel ini punya sejarah yang sangat berharga buat saya.

Novel ini dapat ditemukan di toko buku Gramedia, melalui penerbitnya (IG: @penerbitbukubijak atau @arruzzmediagrup), atau hubungi saya langsung untuk dapat diskon, tanda tangan, atau cap bibir (eh).

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.