The Martian adalah sebuah film yang sudah cukup lama dirilis, yaitu pada tahun 2015. Film ini sedikit-banyak mengingatkan saya pada film Cast Away (2000)yang mengisahkan tentang hal serupa tentang bagaimana manusia bertahan hidup saat terdampar sendirian di tempat yang terpencil. Bedanya adalah setting tempatnya. Jika Cast Away di suatu pulau terpencil di bumi, The Martian bersetting di Planet Mars. Namun keduanya meninggalkan kesan mendalam tentang perjuangan untuk survive.

The Martian bergenre science fiction, salah satu genre favorit saya. Diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir, dengan judul yang sama, The Martian, yang terbit pada tahun 2011. Film ini mengisahkan tentang perjuangan hidup astronot NASA bernama Mark Watney (Matt Damon), di Planet Mars sendirian. Hal itu bermula dari sebuah perjalanan ke Planet Mars oleh sebuah tim astronot NASA yang dipimpin oleh Melissa Lewis (Jessica Chastain), pilot Rick Martinez (Michael Peña), Alex Vogel (Aksel Hennie)–astronot berkebangsaan Jerman. Christopher Beck (Sebastian Stan) seorang dokter bedah. Yang terakhir, sang ahli komputer, Beth Johanssen (Kate Mara).

Perjalanan dari bumi menuju Mars cukup lancar. Masalah timbul saat mereka sedang berada di Mars. Sebuah badai besar membuat Watney terkena puing antena pemancar dan membuat ia terlempar ke tengah badai. Teman-temannya tak dapat menemukannya dan mengira ia telah tewas dalam kejadian itu. Mereka terpaksa pergi meninggalkan Mars tanpa Watney. Tak dinyana, rupanya Watney masih hidup. Meski terluka parah di bagian perutnya, Watney ternyata selamat.

Berjuang untuk Tetap Hidup

Tertinggal sendirian di sebuah planet tak berpenghuni, tentu saja mengerikan bahkan bagi seorang astronot andal sekalipun. Yang menjadi masalah, selain tak dapat berkomunikasi dengan rekan-rekannya, persediaan makanan, air, dan oksigen pun sangat terbatas. Watney harus mencari cara agar dapat berkomunikasi dengan tim NASA, sehingga mereka tahu bahwa dirinya masih hidup di Mars.

Di sisi lain, untungnya, Watney adalah ahli botani. Dengan kemampuannya, ia dapat mengolah tanah Mars dengan pupuk dari kotoran para astronot, dan menyiapkan ruangan sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan kentang untuk persedian makannya beberapa waktu ke depan. Watney harus mengandalkan akal dan semangatnya untuk tetap bertahan hidup dan mencari cara untuk mengirimkan pesan ke bumi.

Misi Kemanusiaan

Ketika pada akhirnya mengetahui bahwa Watney masih hidup, NASA berusaha menjalankan misi penyelamatan. Banyaknya pertimbangan seperti sulitnya misi menuju Mars, biaya yang besar, dan kemungkinan keberhasilan yang tipis,sempat membuat penyelamatan terombang-ambing. Namun, di sini diperlihatkan sisi kemanusiaan yang kuat, bahwa semua orang merasakan hal yang sama jika berada di posisi Watney: ingin pulang dan bertemu kembali dengan orang-orang yang disayangi.

Berbagai Fakta Ilmiah

Film bergenre science fiction ini mengungakap berbagai fakta ilmiah seputar peralatan dan teknologi NASA. Dari laman Business Insider, Selasa (6/10/2015), setidaknya terdapat 9 referensi fakta ilmiah terkait teknologi dan peralatan NASA yang memang benar-benar hadir di film ini. Pertama, The Hab. Dikisahkan Watney menghabiskan sebagian besar waktunya di Mars di sebuah bangunan kecil yang disebut “The Hab”, sebuah shelter yang melindunginya dari radiasi berbahaya dan suhu yang ekstrem di Mars. Kedua, Rover. Watney menggunakan kendaraan yang disebut dengan Rover. Meski tidak dapat melaju lebih dari 15 mil per jam, namun dengan kendaraan ini ia dapat menelusuri permukaan Mars. Ketiga, Space Suit. Tanpa oksigen dan temperature subzero di Mars, Watney dapat membuat manusia tewas tanpa kostum astronot ini hanya dalam dua menit. Dengan kostum itu, Watney dapat berjalan di Mars dengan aman dan leluasa, kecuali jika terjadi kebocoran dan level oksigennya menurun. Keempat, Hermes Spacecraft. Dalam film ini, Hermes adalah pesawat raksasa yang  membawa para astronot ke Mars dari jarak 280 juta mil dengan ion propulsion. Pesawat tersebut memang mengambil konsep pesawat Dawn milik NASA yang mana dapat terbang dengan ion propulsion, yang menggunakan xenon ion untuk bisa berakselerasi di luar angkasa. Keempat, Radioisotope Thermoelectric Generator (RTG). Ini merupakan teknologi berupa penghangat ruangan yang mampu membuat Watney tetap hangat saat bertahan hidup di Mars. Perangkat ini mengandung isotipe Plutonium 238 yang mengalami pembakaran radioaktif natural. Kelima, Solar Power. Watney hanya mengandalkan solar power (tenaga surya) sebagai energi renewable (yang bisa diperbarui) sebagai instrumen yang bisa digunakan untuk menopang hidupnya. Keenam, Oxygen Generation System. Watney  mengandalkan alat ‘Oxygenator-nya’ yang berada di The Hab untuk menciptakan oksigen buatan. Alat tersebut dibuat berdasarkan teknologi Oxygen Generation System yang ada di International Space Station (ISS) yang mampu mengurai air untuk menciptakan dua atom hidrogen, yang akan dipilah. Satu akan dibuang ke luar angkasa, dan yang satunya akan dijadikan atom oksigen, yang akan dirilis ke kabin astronot. Ketujuh, Water Recovery System. Mars tidak memiliki kandungan air yang dapat diminum. The Hab yang dihuni Watney memiliki mesin water reclaimer yang mampu mendaur ulang air Mars dan bahkan bisa menciptakan air minum dari urine milik Watney. Kedelapan, Solar Power. Dengan jarak 1.5 kali lebih jauh dari Matahari dibandingkan dengan Bumi, Mars hanya mendapatkan sekitar setengah cahaya matahari. Watney mengandalkan solar power (tenaga surya) sebagai energi renewable (yang bisa diperbarui) sebagai instrumen yang bisa digunakan untuk menopang hidupnya. Itu terinspirasi dari International Space Station (ISS) yang memiliki 8 sayap dengan sekitar lebih dari 33.000 solar panel, yang mampu menciptakan daya listrik untuk lebih dari 40 rumah. Kedelapan, Watney berkebun di Mars dengan cara menumbuhkembangkan kentang agar ia tidak kelaparan. Mustahil kelihatannya hal tersebut dilakukan. Namun, ternyata kegiatan ‘berkebun’ di luar angkasa memanglah nyata. Baru-baru ini, para astronot di International Space Station (ISS) dikabarkan berhasil menanam selada untuk pertama kalinya dinikmati di luar angkasa.

Science Fiction yang Humanis

Umumnya, faktor ketegangan da hal-hal mencekam merupakan unsur-unsur yang mengemuka dalam film-film penjelasahan ruang angkasa. Sebut saja, Red Planet, Alien, Gravity, Armageddon, sampai Interstellar. Namun, bukan itu yang diangkat oleh sang sitradara, Ridley Scott dalam film ini. Kendati temanya mengangkat tentang upaya bertahan hidup seorang astronot yang hidup seorang diri di Mars yang tak berpenghuni, Ridley menggunakan pendekatan yang berbeda. Sisi humanism dan unsur komedi begitu terasa dalam film ini. Ridley mengajak penonton tertawa dengan monolog-monolog Watney dalam kesendiriannya berjuang di Mars, bahkan kekonyolan yang ia buat saat melakukan kesalahan dalam mengatasi persoalannya. Sisi kemanusiaannya pun begitu kental. Terlihat dari betapa besar upaya yang dilakukan oleh NASA untuk menyelamatkan seorang manusia—astronot—yang tertinggal di Mars. Hampir semua orang sepakat menyelamatkan Watney dengan alasan yang lebih menyentuh sisi humanisme. Kalaupun ada konfilk, itu hanya karena teknis penyelamatan yang riskan. Sebuah dialog yang mengakhiri film ini mengajak penonton untuk terus berjuang dalam hidupnya.

Pada suatu titik, keadaan akan melawanmu. Kalian bisa menyerah atau memilih berjuang.

Berjuang selalu memiliki dua kemungkinan: kalah atau menang. Namun, tentu saja, menyerah tak akan membawa kita ke mana pun. Empat bintang, menurut saya.

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.