The Captain merupakan film China yang diadaptasi dari kisah nyata kecelakaan pesawat Sichuan Airlines Flight 8633 pada 14 Mei 2018. Film ini disutradarai Andrew Lau, yang pernah menyutradarai antara lain A Beautiful Life (2011), The Guillotines (2012), Shi Jian Dang An Guan (2012), Revenge of the Green Dragons (2014), From Vegas to Macau III (2016), The Founding of an Army (2017), Kung Fu Monster (2018), dan Phanta City (2018).

Badai dan Turbulensi

Kapten Liu Chuanjian (Zhang Hanyu) mempersiapkan penerbangan bersama dua pilot lainnya, Xu Ruiheng (Ou Hao) dan Liang Peng (Du Jiang), dan flight attendant (pramugari) di bawah pengawasan Bi Nan (Yuan Quan). Pesawat lepas landas pada pukul 06.26 dari bandara internasional Chongqing Utara dengan tujuan Lhasa.

Kru melakukan pengecekan standar sebelum pesawat diberangkatkan. Semua tampak baik-baik saja mulai dari semua penumpang naik hingga lepas landas. Namun, setelah sekitar 40 menit mengudara di ketinggian 32.000 kaki, permasalahan mulai terjadi. Pesawat mengalami turbulensi hebat dan membuat kaca depan pesawat hancur.  Pesawat oleng akibat tekanan udara dari luar yang masuk ke ruang kokpit, dan setengah badan kopilot Xu Ruiheng terisap keluar badan pesawat. Kapten Liu Chuanjian berusaha keras menyelamatkan kopilotnya, dan di saat bersamaan berusaha mengendalikan pesawat.

Keadaan darurat terjadi. Sayangnya, radio komunikasi tidak berfungsi. Pun tak ada bandara terdekat sebagai tempat pendaratan darurat. Pesawat terguncang makin hebat. Penumpang panik dan kru mulai membantu mereka memakai masker oksigen untuk pernapasan.

Sang Kapten  dengan dibantu kedua kopilotnya, Xu Ruiheng dan Liang Peng, berjuang untuk mendaratkan pesawat yang membawa 119 penumpang dengan enam kru di dalamnya. Sichuan Airlines yang awalnya akan ke Lhasa dialihkan ke bandara terdekat yaitu bandara Chengdu. Kapten Liu Chuanjian terus berusaha berkomunikasi lewat radio. Namun, penerbangan mereka menghilang dari radar, tepat di dataran tinggi Tibet. Formasi awan menutup jalur dan mengakibatkan pesawat berputar-putar untuk menghindari badai besar. Di saat yang kritis, Kapten Liu Chuanjian memutuskan untuk menembus badai karena ia tahu itulah satu-satunya kesempatan yang mereka miliki.

Sinematografi film ini sungguh luar biasa. Penggambaran situasi, visualisasi, dan sound effectnya begitu mencekam dan membuat penonton hampir selalu menahan napas di sepanjang menonton film ini.

Campur Tangan Tuhan

Sungguh benar adanya bahwa ketika kita bepergian melalui jalur udara, begitu pesawat lepas landas, nyawa kita berada di tangan pilot dan Tuhan. Tak terbayang bagaimana para pilot dan flight attendant bekerja dengan bertaruh nyawa di setiap saat. Bahkan, di saat-saat paling menakutkan sekalipun, mereka harus dapat menenangkan penumpang dengan mengatakan bahwa semua baik-baik saja dan mereka akan pulang dengan selamat.

Keberhasilan Kapten Liu Chuanjian mendaratkan pesawat setelah melalui turbulensi hebat ini tentunya bukanlah keberhasilan tunggal. Bersama kru yang solid: kopilot yang pantang menyerah dan flight attendant yang tak lelah menguatkan mental penumpang, mereka berhasil membuat pesawat itu terhindar dari naas. Namun, di luar itu, tentu peristiwa ini tak lepas dari campur tangan Tuhan. Sampai saat ini, pihat otoritas penerbangan Tiongkok tak pernah merilis hasil investigasi insiden badai turbulensi yang menghantam Sichuan Airlines. Tak pernah diketahui apa sumber keberhasilan yang menjadi penyebab pilot dapat mendaratkan pesawatnya melalui protokol pendaratan darurat. Dapat dikatakan, selain keahlian sang pilot dan krunya, mukjizatlah yang membuat Sinchuan Airlines lolos dari maut yang menghadang.

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.