Bagaimana kalau orang tahu bahwa mereka didaur ulang? Akankah itu mengubah sesuatu?

Proses penerjemahan My Name is Memory, terbitan Bentang Pustaka, bisa dikatakan salah satu yang paling berkesan buat saya, tentu saja tanpa mengurangi nilai kesan novel lain yang pernah saya terjemahkan. Seperti judulnya yang romantis, ceritanya pun lembut, menyentuh, dan filosofis. Berkisah tentang reinkarnasi, saya dihadapkan pada teori-teori filsafat dalam buku ini. Melintasi jazirah waktu, saya harus bolak-balik ke abad sekian ke masa kini, dan sebaliknya, lalu meloncat dari abad ke abad. Saya bertemu dengan Carl Jung, Emily Dickinson, hingga George Washington dan Thomas Jefferson.

Dikisahkan, Daniel dan Sophia hidup berulang sebagai sosok yang berbeda-beda, di berbagai belahan dunia, selama ribuan tahun. Sebagian orang yang mengalami reinkarnasi, memiliki memori akan siapa dirinya, tetapi sebagian yang lain tidak. Daniel, mewujud dalam berbagai sosok, tapi ia ingat bahwa dirinya adalah Daniel. Sementara itu, Sophia tidak. Memorinya acak dan hanya sepenggal-penggal. Ia tak mengingat siapa Sophia, apalagi Daniel. Nah, kisah ini menuturkan bagaimana Daniel mencari Sophia dari abad ke abad, untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan di kehidupan mereka yang pertama, dan untuk meyakinkan Sophia akan cintanya. Namun, di antara mereka, ada abang Daniel, Joaquim, yang pernah menjadi suami Sophia di suatu masa kehidupan. Hanya saja, Joaquim yang memperisitri Sophia dengan membelinya, memperlakukan perempuan itu dengan kejam. Daniel-lah yang menyelamatkan Sophia dari cengkeraman abangnya. Di masa kemudian, Joaquim bagaikan jelmaan iblis yang terus berusaha membayang-bayangi mereka berdua dari zaman ke zaman.

Saking larutnya dalam cerita Daniel-Sophia, saya jadi membayangkan seaindainya reinkarnasi benar-benar ada. Muncul berbagai tanya di benak saya. Akan jadi siapakah kita? Akankah kita kembali bertemu orang-orang dari kehidupan lama? Akankah kita dipersatukan kembali dengan orang-orang yang kita sayang?

Only God knows.

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.