Pernah lupa mematikan keran hingga airnya terbuang sia-sia? Atau, pernah mengalami kekurangan air selama berhari-hari? Saya pernah mengalami keduanya.

Saat merasa cukup, kita merasa air yang terbuang akibat lupa mematikan keran bukanlah suatu masalah besar. Namun, bagi sebagian orang lain, kehilangan air adalah hal yang menyakitkan. Itu yang saya rasakan ketika sumur di rumah kontrakan kering saat musim kemarau. Selama beberapa waktu saya terpaksa membeli air dan berhitung dalam menggunakannya. Pada saat itu pulalah saya baru menyesal karena pernah menyia-nyiakan air. Saya harus berhemat saat mandi, memasak, mencuci, bahkan saat wudu dan bersih-bersih. Untunglah kemudian, pemilik kontrakan memutuskan untuk berlangganan PDAM dan kebutuhan air pun terpenuhi dengan lebih baik.

Sebagian Orang Kekurangan Air

Makhluk hidup dapat bertahan hidup karena air. Dari 70 % air yang di permukaan bumi, hanya 3 % yang merupakan air tawar yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Tidak meratanya jumlah air di muka bumi, bertambahnya populasi manusia di bumi, makin berkurangnya lahan akibat penebangan hutan, semua itu berkontribusi pada makin sedikitnya jumlah air yang dapat dinikmati manusia. Di selatan Eropa, negara-negara seperti Estonia, Rumania, dan Hungaria mulai merasakan krisis. Ratusan juta orang di Meksiko, Argentina, dan negara-negara di sepanjang garis pantai barat Amerika Selatan juga sulit mengakses air bersih. Bahkan, negara-negara di benua Afrika, seperti Kenya dan Ethiopia, terpaksa menggunakan air kotor untuk bertahan hidup.  

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia pun, tak semua orang beruntung bisa mendapatkan akses air dengan leluasa. Sebut saja Gunung Kidul yang acap mengalami krisis air ketika musim kemarau tiba.  Di Lebak, Provinsi Banten, belasan desa kehilangan akses air bersih akibat kemarau panjang dan membuat warga menggantungkan harapan pada bantuan penyaluran air.  Sementara itu, di luar Jawa, sejumlah wilayah di Indonesia yang memiliki curah hujan rendah juga kerap mengalami kekurangan air bersih, seperti di Sumbawa, Ambon, maupun Medan, akibat  kekeringan yang terjadi hampir setiap tahunnya.

Dampak Kekurangan Air Bersih

Persoalan kekurangan air bersih akibat kekeringan dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak yang serius, antara lain pada menurunnya standar hidup, berbagai masalah kesehatan, bencana kelaparan, dan kerusakan ekosistem. Kurangnya air bersih membuat orang-orang terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak dan berdampak pada menurunnya kualitas hidup. Akibat mengonsumsi air yang tidak layak, orang-orang dapat mengalami masalah kesehatan seperti diare, iritasi kulit, tifus, infeksi saluran kencing, hingga gangguan ginjal dan saluran reproduksi. Akibat kurang air, panen gagal dan banyak ternak mati. Seperti mata rantai, akibatnya, ketersediaan pangan pun menurun dan terjadilah bencana kelaparan. Matinya hewan dan tumbuhan berimbas pula pada kerusakan ekosistem.

Air di Masa Depan

Perang pada abad ini untuk berebut minyak. Tapi perang di masa depan untuk berebut air.

Ucapan itu terlontar dari mantan presiden Bank Dunia, Ismail Seragilden, yang diwawancarai oleh The New York Times pada 10 Agustus 1995. Prediksi ini merupakan sinyal bahaya akan adanya krisis air di dunia.

Membaca sinyal itu, tentu saja kita tak boleh berdiam diri. Yang pasti, kita dapat memulai dari hal-hal kecil dalam keseharian kita. Menutup keran kembali saat selesai mandi, tidak membuang sampah atau limbah di sungai, menggunakan air seperlunya saat mencuci motor atau mobil, memperbaiki kebocoran pipa air, hal-hal tersebut yang dapat kita lakukan untuk menghemat air. Menghemat air berarti menghargainya. Dan, menghargai air berarti menghargai kehidupan.

Referensi:

www.medcofoundation.org

www.analisadaily.com

www.cnnindonesia.com

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.