Sejak pandemi, Sheila sangat membatasi diri keluar rumah. Selain disibukkan dengan sekolah online, ortu juga melarangnya pergi-pergi kecuali jika ada hal yang sangat penting. Tentu saja itu sangat membosankan bagi Sheila, padahal ia tergolong remaja yang sangat aktif dan banyak kegiatan di sekolah. Tak hanya itu, berdiam diri di rumah di masa pandemi berdampak bagi berat badannya. Setelah hampir setahun, berat badan Sheila bertambah lima kilo. Sheila pun mati-matian melakukan diet. Karena tak kunjung berhasil, ia memutuskan menambahnya dengan olahraga. Ia mengajak sahabatnya, Vita, untuk  jogging di stadion yang  tak jauh dari rumahnya. Menganggap itu cukup aman, izin ortu pun dikantungi Sheila. Pagi itu, Sheila dan Vita pergi untuk jogging. Namun, setelah beberapa putaran, tiba-tiba Sheila merasa pusing. Pandangannya menggelap dan ia pun jatuh pingsan.

Defisiensi Zat Besi: Pemicu Anemia

Apa yang dialami oleh Sheila dapat terjadi pada remaja lain. Jika kondisi ini terjadi, cepat-cepatlah berkonsultasi ke dokter, karena ini adalah merupakan salah satu gejala anemia. Gejala anemia dapat berupa kelopak mata pucat, sakit kepala, kulit pucat, tekanan darah rendah, nafas cepat/sesak, dan nadi cepat. Apabila salah satu atau beberapa gejala ini terjadi, bisa saja kamu mengalami anemia. Dampaknya antara lain adalah menurunnya daya tahan tubuh, kebugaran, dan prestasi, kinerja; serta terjadinya infeksi.

Anemia dapat terjadi karena defisiensi zat besi, kurangnya vitamin, mengidap penyakit, atau kehilangan darah. Anemia lebih banyak terjadi pada remaja putri karena setiap bulan ia mengalami datang bulan. Menstruasi yang berat dapat berisiko membuatnya mengalami anemia. Selain itu, remaja putri juga cenderung picky dalam hal makanan. Hal ini bisa jadi karena diet yang membuatnya mengurangi asupan makanan yang mengandung zat besi, yang tanpa disadari dapat memicu terjadinya anemia.

Zat besi (Zinc) punya peran yang sangat penting bagi pembentukan sel darah merah (hemoglobin). Rendahnya kadar Hemoglobin (Hb) dibandingkan dengan kadar normal sehingga sel darah merah yang bersirkulasi menjadi kurang ini disebut dengan anemia.  Kondisi ini dapat menimpa semua generasi, mulai dari anak, remaja, ibu hamil dan menyusui, hingga lansia.

Persoalan Asupan Makanan pada Remaja
Kebiasaan membatasi makan atau bahkan melakukan diet ketat tanpa sadar menimbulkan asupan zat besi menjadi kurang. Berikut adalah faktor-faktor penyebab anemia.

  1. Asupan zat besi yang rendah, terutama zat besi heme (hewani)
    Sebagian orang menghindari mengkonsumsi zat besi heme karena dianggap menjadi penyebab kegemukan/kolesterol. Sumber zat besi heme antara lain terdapat pada daging ayam, sapi, domba, hati ayam, hati sapi, hati domba, serta ikan salmon
  2. Asupan vitamin C yang rendah
    Sumber vitamin C dapat ditemukan pada paprika merah, brokoli, jambu biji, kiwi, cabai, kelengkeng, stroberi, blewah, manga, tomat, dan jeruk. Jika tubuh kekurangan vitamin C maka yang dirasakan secara signifikan adalah melemahnya sistem kekebalan tubuh.
  3. Konsumsi sumber fitat yang berlebihan
    Sumber fitat antara lain adalah gandum, biji-bijian, kacang-kacangan, dan tanaman polong-polongan. Asam fitat yang terkonsumsi akan ”mencuri” mineral penting seperti zat besi, kalsium, zat seng, zat magnesium, zat tembaga, karena akan diikat oleh asam fitat, sehingga ketersediaan zat-zat gizi tersebut untuk dapat diserap oleh usus menjadi berkurang.
  4. Konsumsi sumber tannin (kopi, teh) yang berlebihan
    Hati-hati bagi para pecinta kopi dan teh. Dalam kadar sedang, kopi dan teh dianggap nikmat dan dapat memantik inspirasi. Namun, jika dikonsumsi dengan kadar yang berlebih maka dua jenis minuman ini dapat memicu timbulnya anemia.
  5. Diet yang tidak seimbang.
    Inilah yang sering kali terjadi pada kalangan remaja putri. Merasa khawatir pada berat badan yang tidak ideal, mereka bisa jadi melakukan diet tanpa pengawasan. Karena tidak mengatur pola diet dengan, alhasil tubuh akan kehilangan zat-zat penting dan berdampak pada anemia.

Lalu, bagaimana Cara Mengatasi Anemia?
Penderita anemia defisiensi zat besi memerlukan tambahan asupan zat besi dari makanan. Oleh karena itu, para penderita anemia disarankan untuk:

  1. Memastikan asupan bergizi seimbang
  2. Apabila asupan didominasi sumber besi non heme, pastikan dikonsumsi bersama dengan unsur yg dapat meningkatkan penyerapan zat besi.
  3. Melalkukan fortifikasi makanan: tepung terigu/beras, biscuit, susu
  4. Mengonsumsi tablet tambah darah

One Planet, One Health
Setiap kali makan dan minum, kita memilih dunia seperti apa yang akan kita tempati. Danone Indonesia, sebagai perusahaan makanan dan minuman terkemuka di Indonesia, berkomitmen menjadi yang terdepan dalam revolusi makanan, sebuah gerakan yang bertujuan memelihara penerapan kebiasaan makan dan minum secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Upaya penanganan anemia dan masalah gizi lain perlu dilakukan secara berkelanjutan. Danone Indonesia berkomitmen untuk terus melalukukan upaya itu melaui tiga sektor utamanya yaitu produk olahan susu termasuk susu pertumbuhan dan yoghurt sebesar 55%, produk minuman seperti air mineral sebesar 27%, dan produk biskuit dan sereal sebesar 18%.

Dengan berbagai produknya, Danone Indonesia terus berupaya bersinergi dengan berbagai pihak untuk dapat mewujudkan One Planet, One Health. Semua penduduk di planet ini harus bersama-sama mewujudkan generasi yang lebih sehat dan bebas anemia.

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.