Seorang hero sering kali digambarkan tumbuh dalam kepahitan hidup. Bruce Wayne alias Batman yang harus menyaksikan kedua orangtuanya dibunuh di depan matanya, Peter Parker alias Spiderman yang kehilangan orangtua dan membuatnya diasuh oleh kakek-neneknya, adalah dua di antaranya. Ketika melihat part awal film Gundala, saya dibuat tercenung dengan kisah yang menggambarkan luka masa kecil seorang Sancaka. Lalu di part berikutnya, diperlihatkan bagaimana seorang Pengkor (Bront Palarae) menjadi iblis yang bersembunyi di balik jubah penyelamat demi melampiaskan dendam masa kecilnya.

Kepahitan hidup dapat mencetak manusia dengan dua kemungkinan. Menjadi penyelamat yang tertindas demi menegakkan keadilam. Atau menjadi penyelamat mereka yang tertindas, namun demi melampiaskan dendam atas luka yang dialaminya.

Gundala besar dengan trauma kehilangan orangtua yang terus membayanginya. Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) kehilangan ayahnya (Rio Dewanto) yang merupakan pemimpin demo buruh menuntut upah dan jam kerja yang lebih manusiawi. Perwakilan buruh ketika itu diminta menghadap pimipinan pabrik, namun kemudian dikabarkan raib tiga hari kemudian. Ayah Sancaka yang mendapatkan kabar itu dan bergegas mengajak para buruh lain menuntut keadilan. Namun, ibu Sancaka (Marissa Anita)—yang diminta suaminya menemani istri buruh yang raib—menemukan buruh yang dikabarkan hilang itu ternyata ada di rumahnya, dan baik-baik saja. Sadar telah terjadi pengkhianatan, ia dan Sancaka berlari ke pabrik. Di sanalah Sancaka melihat ayahnya telah tewas bersimbah darah. Beberapa hari berselang, sang ibu pamit pergi ke Tenggara untuk mencari kerja dan berjanji akan segera pulang. Namun, ternyata ia tak pernah kembali.

Demi bertahan hidup, Sancaka menjadi pengamen jalanan. Karena membela anak perempuan yang diganggu anak-anak berandalan, ia pun dikeroyok dan diiris kupingnya. Beruntung, Awang datang di saat kritis dan menyelamatkannya. Dari Awanglah, Sancaka belajar baku hantam. “Jangan percaya orang lain. Jangan ikut campur masalah orang lain. Lo akan selamat,” pesan itu ditanamkan oleh Awang kepada Sancaka.

Sancaka dewasa (Abimana Aryasatya) bekerja sebagai sekuriti di sebuah perusahaan suratkabar. Pengalaman pahit yang dialaminya karena berusaha menolong orang lain, serta pesan Awang (Faris Fajar), membuatnya tumbuh menjadi sosok yang tak peduli dengan orang lain. Namun, suatu ketika, seorang rekan kerjanya, Pak Agung (Pritt Timothy) menyelamatkan seorang pencopet yang hendak dihajar massa dengan melarikannya ke kantor polisi. Saat itu, Sancaka disadarkan kembali tentang pentingnya menjadi manusia. “Nggak ada gunanya lo hidup  kalo hanya mikirin diri sendiri,” tegas Pak Agung.

Sancaka dikisahkan sangat takut dengan petir. Itulah mengapa ia sering bersembunyi ketika hujan. Namun, petir itulah kemudian yang memberikannya kekuatan untuk melawan ketidakadilan.

Kekuatan film Gundala terletak pada kepiawaian Joko Anwar, sang sutradara, menggambarkan kacau balaunya tatanan masyarakat. Berbagai adegan dalam film terasa tak asing bagi kita: beredarnya hoaks pemicu kegaduhan, tindakan penjarahan, aksi serikat pekerja menuntut keadilan, perlawanan pada oligarki politik. Joko Anwar melalui posternya pun telah menyatakan bahwa negeri ini butuh seorang patriot di tengah impitan berbagai persoalan.

 Terlepas dari ceritanya yang cukup mengesankan, menurut saya ada beberapa hal yang membuat film ini kurang sempurna. Dalam beberapa adegan, visualnya tampak sedikit mengganggu. Adegan petir yang menyalurkan kekuatan Gundala cenderung kaku dan adegan laganya sering kali terasa tersendat. Namun, bagi saya banyak pesan yang dapat diambil dari film ini dengan berbagai dialognya yang mengena. Salah satunya adalah ucapan Wulan (Tara Basro), bahwa sekecil apa pun, harapan tetap dibutuhkan untuk tetap bertahan. 

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.