Bincang Sastra yang  diselenggarakan oleh Alumni Teater TESA,  Fakultas Ilmu Budaya,  Universitas Sebelas Maret Surakarta, mengusung tema besar “Alumni TESA untuk Indonesia” yang kemudian dijabarkan dalam beberapa tema kecil. Setiap bulan, acara tersebut mengangkat tema-tema tertentu yang sekiranya bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah terpaan pandemi Covid 19 yang berkepanjangan.

Sesi kali ini, yang terlaksana pada hari Minggu lalu, 27 Maret 2021, merupakan pertemuan yang kelima, dengan mengangkat tema “Sastra Kuno dan Pemanfaatannya”. Pada sesi ini ditampilkan dua narasumber, yaitu Asep Yudha Wirajaya dan Theresia Alit. Asep Yudha Wirajaya membawakan materi yang berjudul, “Pemanfaatan Naskah Kuno dalam Bidang Seni Pertunjukkan”, sedangkan Theresia Alit menampilkan materi “Ambiguitas permainan cublak-cublak suweng dalam teks Serat Suluk Bango Buthak”.

Dalam pemaparannya, Asep menyatakan bahwa saat ini keberadaan naskah kuno masih dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak di negeri ini. Makanya, tidaklah mengherankan jika kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah belum begitu berpihak bagi keberadaan dan penyelamatan naskah-naskah kuna. Sementara itu, gerakan “illegal market” sedemikian massif dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga naskah-naskah tersebut banyak yang sekarang berpindah kepemilikannya, menjadi milik negara atau kolektor asing. Walaupun sudah ada Undang-undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang menegaskan bahwa naskah kuno merupakan salah satu benda cagar budaya yang dilarang diperjual-belikan.

“Namun, fakta di lapangan tidak bisa kita pungkiri keberadaan para tengkulak atau pengepul naskah yang begitu aktif bergerilya untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Betapa tidak menggiurkan, nilai sebuah naskah bisa mencapai angka Rp. 3 – 5 Juta asalkan kondisinya masih baik, “tandas Asep.

Padahal, banyak nilai-nilai kearifan lokal yang luar biasa yang terkandung di dalam naskah tersebut. Nilai-nilai tersebut dapat digunakan sebagai sumber inspirasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa yang tengah kita hadapi hari ini dan hari esok yang akan datang. Misalnya saja, bisa digunakan sebagai bahan kajian bidang obat-obatan tradisional, kecantikan, kebencanaan, teknik bangunan & arsitektur, ketahanan pangan, perikanan, seni pertunjukan, dsb.

Namun, hal itu akan menjadi sebuah harapan indah yang sulit untuk dapat terwujud, bila:  (1) pemerintah kurang peduli; (2) dunia pendidikan juga hanya fokus pada output lulusan (nanti bekerja di mana?); (3) generasi muda juga kurang tertarik mempelajari khazanah intelektual nenek moyang; (4) misspersepsi tentang keberadaan naskah yang dianggap sebagai komoditi yang bisa diuangkan atau naskah dianggap sebagai benda pusaka.

Inilah yang menjadi PR besar bagi bangsa ini. Betul bahwa kita sudah masuk dalam era revolusi industri 4.0 bahkan sudah akan masuk era society 5.0. Tapi, jika hal ini tidak disikapi dengan bijak, maka akan muncul pertanyaan besar, yaitu “Bangsa ini akan dibawa ke mana?” Bila semua sudah tidak lagi peduli dengan kebudayaan dan jati diri bangsanya.

Dalam bidang seni pertunjukan, naskah kuna bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam menghasilkan karya-karya baru yang spektakuler, seperti I La Galigo yang berangkat dari naskah kuna abad 13 – 14 M di daerah Bugis Makasar. Kini, ia tampil sebagai karya pementasan teater yang memukau dunia. Ia dipentaskan lebih dari 12 kota dan 9 negara. Bahkan, kini I La Galigo telah ditetapkan UNESCO sebagai MoW (Memory of The World) yang jauh melebihi Ramayana, Mahabarata, dan Homerus.

Namun, banyak di antara warga negara Indonesia yang belum mengetahuinya. Selain itu, naskah Serat Pustaka Raja Purwa karya R. Ng. Ronggowarsito ditransformasikan menjadi pertunjukan Wayang Kulit, Wayang Orang, Sendratari, Drama/Teater, dan Film. Naskah Kalatidha digubah menjadi sendratari dan film dokumentar Kalabendhu, dsb. Artinya, keberadaan naskah-naskah kuno tersebut benar-benar dapat diberdayagunakan sebagai sumber inspirasi dan bahan penciptaan bagi seni pertunjukan yang tiada habisnya. Kesemuanya itu tinggal menunggu kemauan dan keseriusan dari kita semua. (Sumber: Asep Yudha)

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.