Setelah Dissy dan Dobby, serial kartun pertama yang dikenal Gib di usianya yang belum genap setahun ketika itu, ada satu film lagi yang menyita perhatiannya saat ia menginjak 2 sampai 3 tahunan ini. Baby Bus, judulnya.  Awalnya saya tidak terlalu memerhatikan ketika Gib menontonnya. Entah sudah berapa judul yang telah ditontonnya, dan temanya sangat beragam. Film ini menarik karena selain animasinya yang memikat, lagu-lagunya juga ear catching, mudah pula dihafalkan. Salah satu yang jadi favorit Gib adalah yang bercerita tentang mobil polisi. Dia terkagum-kagum dengan mobil beroda besar di film itu, sampai-sampai lagunya selalu dia senandungkan. “Uwi uwi uwi, mobil polisi….” Dia juga sangat menyukai aksi kejar-kejaran di film itu yang ia adaptasi di dunia nyata. “Lari larilah…kejar dia. Lari lari larilah, lari yang kencang…” serunya sambil mengejar-ngejar emaknya yang sebelumnya ia suruh pura-pura kabur.

Beberapa waktu belakangan ini saya jadi lebih sering mengamati tontonan Gib yang makin beragam, untuk memastikan semua aman. Sependek pengetahuan saya, cerita Baby Bus berkisar tentang persahabatan, permainan, makanan favorit anak seperti popcorn dan hamburger, mobil-mobilan, dan sejenisnya. Namun, kemudian saya baru tahu bahwa Baby Bus tidak hanya sekadar berisi hiburan buat anak-anak balita, tetapi juga berbagai pelajaran penting. Suatu ketika, saya dengar dialog atau lagu dari film Baby Bus yang cukup menggelitik telinga. Versi bahasa Inggrisnya berjudul “Germs in My Nose”, tetapi yang ditonton Gib versi bahasa Indonesianya, “Jangan Mengupil dengan Tangan Kotor”.

Saat mengorek hidung

Kuman bersenang-senang

Saat mengorek hidung

Kuman bersenang-senang

Upil upil di mana

Kusembunyi

Ssst ssst ssst

Mtak mau saya jadi tertarik ikut menonton karena kata “upil” mungkin tak akan pernah terbahas di film-film kartun lain. Ini hal sederhana, tetapi penting buat anak seusia Gib. Dari sana ia belajar bahwa mengupil dengan tangan kotor akan membuat kuman mampir dan bisa membuatnya sakit.  Kebiasaan mencuci tangan pun ditekankan di sana.

Beberapa  tema lain pun ternyata cukup menarik, antara lain tentang pentingnya menggosok gigi setelah makan, apa yang harus dilakukan jika tersesat di tempat umum, pentingnya berbicara dengan baik lembut, kebiasaan membereskan mainan setelah bermain, keamanan saat mandi, hingga yang terakhir yang cukup membuat saya tersentak adalah edukasi seks sederhana untuk balita tentang celana dalam. Pesan dalam lagunya cukup lugas. Berikut adalah petikan liriknya:

Kupakai dalaman

Tuk tutupi tubuhku

Dalaman dalamanku

Mereka milikku

Ingat ini dalamanku

Menutupi tubuhku

Kalau ada yang mau lihat

Jangan ragu bilang tidak

Dalamanku milikku

Dalamanku, jangan sentuh

Dalamanku, kalau bahaya panggil bantuan

Tak ada yang boleh sentuh dalamanku

Kemudian, diikuti pesan begini: Celana dalam menutupi bagian pribadi kalian. Jika ada orang yang mencoba melihat atau menyentuhnya, jangan ragu untuk mengatakan tidak dan mintalah bantuan. Begitulah cara untuk melindungi diri sendiri dan orang lain juga.

Tema ini cukup berat sebenarnya, apalagi di kultur bangsa kita yang masih menganggap tabu edukasi seks buat anak. Tapi menurut saya ini justru penting ditanamkan, mengingat—yang pernah saya baca–Indonesia sudah masuk dalam kondisi darurat kekerasan seksual pada anak. Namun, tentu saja peran orangtua dalam mendampingi dan memberikan penjelasan yang mudah dipahami anak sangat dibutuhkan.

Singkatnya, Baby Bus adalah salah satu film kartun recommended buat anak dan–tentu saja–orangtua.

Written by

Ambhita Dhyaningrum

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang penulis.