Di awal tahun 2021 ini, saya memutuskan untuk lebih serius mengelola blog. Akhirnya, inilah rumah baru saya: ambhitadhyan.com. Dan di postingan pertama, saya menulis review film yang baru saja saya tonton: The Flu. Film ini rilis pada tahun 2013, dan sedikit-banyak mengingatkan saya pada situasi pandemi saat ini.

The Flu mengisahkan wabah virus H5N1 (flu burung) di distrik Bundang, Korea Selatan. Virus ganas ini mampu mematikan korbannya dalam waktu 36 jam. Film ini dibintangi oleh Jang Hyuk, aktor yang pernah membintangi sejumlah drama seperti The Producers (2015), Voice (2017), dan Wok of Love (2018). Selain Jang Hyuk, film ini juga dibintangi oleh Soo Ae, Park Min Ah, Lee Hee Joon.

Kisah bermula dari dua bersaudara Ju Byung Woo dan Ju Byung Ki yang menyelundupkan imigran gelap ke Korea Selatan lewat sebuah kontainer. Namun semua imigran gelap tersebut meninggal terkena penyakit misterius, kecuali satu imigran bernama Monssai. Byung Woo dan Byung Ki kemudian membawa Monssai dan bermaksud membawanya ke hadapan bos mereka di Bundang, setelah sebelumnya memvideokan pemandangan mengerikan di dalam kontainer yang berisi tumpukan mayat para imigran gelap itu. Namun, Byung Woo terpapar virus dan Monssai kabur dalam perjalanan.

Ditemani kakaknya, Byung Woo kemudian pergi ke apotek untuk membeli obat, dan tanpa disadarinya, melalui percikan ludahnya saat bersin, ia telah membuat orang-orang di sekitarnya tertular. Saya merinding, membayangkan betapa cepatnya transimisi itu terjadi. Dalam sekejap, virus telah menyebar dengan cepat.

Kondisi Byung-woo memburuk dan muntah darah, membuatnya harus dilarikan ke IGD dan ditangani Dr. Kim In Hae. Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Keesokan harinya, banyak orang mulai menunjukkan gejala yang sama seperti Byung Woo.

Penelitian menunjukkan bahwa virus berbahaya tersebut adalah H5N1 yang bermutasi dan dapat membunuh dalam waktu 36 jam. Ini membuat pihak berwenang segera melakukan karantina wilayah. Kepanikan massal pun tak dapat dihindari. 

Dr. Kim In Hae kehilangan putrinya, Mi Reu, di tengah kekacauan akibat virus. Ia kemudian dibantu oleh Kang Ji Goo, seorang pemadam kebakaran yang sebelumnya juga pernah membantunya. Namun, Mi Reu kemudian menunjukkan gejala terinfeksi virus. Dalam kondisi chaos, di mana warga Bundang yang terinfeksi diisolasi, naluri In Hae sebagai ibu membuatnya menutupi apa yang terjadi dan mati-matian melindungi anaknya agar tidak dipisahkan darinya.

Sementara itu, Monssai diharapkan dapat menjadi penyelamat dari wabah ini. Dialah satu-satunya imigran gelap yang selamat, seorang penyintas yang diyakini memiliki antibodi untuk melawan virus. In Hae tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia berusaha menyelamatkan putrinya dengan memanfaatkan darah Monssai. Namun, ia ketahuan dan terjadilah konflik yang membuatnya dipisahkan dari putrinya.

Keadaan semakin kacau ketika pemerintah setempat memutuskan untuk membumihanguskan Bundang. Mereka beralasan bahwa langkah tersebut dilakukan demi mencegah penyebaran virus yang lebih luas. Sayangnya, Monssai yang diharapkan dapat menjadi penyelamat, tewas di tangan Byung Ki yang melampiaskan dendamnya akibat kematian adiknya.

Di sinilah terlihat bagaimana karakter manusia muncul saat terdesak. Benturan kepentingan, hasrat mempertahankan kedudukan, politik, berbagai konflik berlomba di saat chaos dan membuat manusia mengedepankan egonya daripada kemanusiaan. Namun, di sisi lain, adalah manusiawi bahwa setiap individu berusaha menyelamatkan diri dan orang yang disayangi dengan rela melakukan apa saja.

Seperti pada akhirnya antobodi ditemukan dalam diri Mi Reu untuk menyelamatkan jutaan warga Bundang, saya berharap pada akhirnya itu pun yang terjadi pada pandemi Covid-19 ini. Semoga krisis cepat berlalu dan kita akan kembali menjalani hidup yang normal seperti sedia kala.

Written by

ambhitadhyan

Pengajar, penerjemah, editor, kadang-kadang menulis.